PARLEMENTARIA.ID – Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya memperkuat nilai-nilai gotong royong dengan meluncurkan program Kampung Pancasila. Program ini bertujuan untuk membangun kembali semangat kebersamaan dan solidaritas di tingkat masyarakat, khususnya di lingkungan RW. Dalam pelaksanaannya, sebanyak 12 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) akan terlibat sebagai pendamping dalam penerapan program ini.
Visi dan Filosofi Kampung Pancasila
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa filosofi Kampung Pancasila tidak hanya sekadar slogan, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia menyatakan bahwa Surabaya telah memiliki toleransi yang tinggi sejak era 1960-an, yang merupakan fondasi utama dalam membangun kota ini.
“Sejak tahun 1960 Surabaya itu sudah punya toleransi yang tinggi. Ini yang harus kita pegang dan kita lanjutkan. Maka kampung Pancasila ini tidak boleh berhenti, dan Surabaya harus tegak berdiri dengan gotong-royong,” ujar Eri Cahyadi.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga semangat gotong royong. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah konsep kesejahteraan kolektif melalui distribusi zakat, infaq, dan sedekah seperti yang diterapkan pada masa kepemimpinan Sayyidina Utsman bin Affan.
Pendekatan Berbasis Lingkungan dan Sosial Budaya
Di bidang lingkungan, Wali Kota Eri meminta warga untuk mulai memilah sampah dari rumah. Menurutnya, hal ini tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.
“Bayangkan kalau (botol plastik) itu sudah dipisah di masing-masing RW, kemudian botolnya dijual, itu bisa menghasilkan uang, masuk ke kas RW, dibuat pergerakan sosial. Itu luar biasa,” ujarnya.
Sementara itu, di bidang sosial budaya, program ini juga fokus pada penguatan solidaritas antarwarga, terutama dalam membantu masyarakat kurang mampu melalui mekanisme gotong royong. Ia menekankan pentingnya penyaluran bantuan yang tepat sasaran dan berdasarkan kebutuhan warga setempat.
Peran ASN dan Partisipasi Masyarakat
Program Kampung Pancasila tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Pemkot Surabaya menerjunkan sekitar 12 ribu ASN sebagai pendamping untuk 1.361 RW agar program ini dapat berjalan efektif dan menjangkau kebutuhan warga secara langsung.
Kepala Satuan Tugas Kampung Pancasila Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberdayakan seluruh unsur masyarakat di tingkat RW. Ia menekankan bahwa partisipasi aktif dari warga, termasuk pemuda, organisasi kepemudaan, dan kelompok keagamaan, sangat penting dalam kesuksesan program ini.
“Jadi diharapkan semua elemen terlibat tanpa memandang suku, tanpa memandang agama apapun,” katanya.
Empat Pilar Utama Kampung Pancasila
Dalam pelaksanaannya, Kampung Pancasila dibagi ke dalam empat pilar utama, yaitu lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Setiap pilar memiliki peran masing-masing dalam memperkuat komunitas dan memastikan keberlanjutan program.
Selain itu, pengalaman saat pandemi COVID-19 menjadi inspirasi dalam merumuskan filosofi Kampung Pancasila. Saat itu, nilai gotong royong tumbuh secara spontan di tengah masyarakat tanpa intervensi pemerintah. Pengalaman ini kemudian dijadikan dasar untuk memperkuat solidaritas sosial di tingkat RW.
Keberlanjutan dan Keterlibatan Aktif
Eri Cahyadi menegaskan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan di tingkat RW dengan dukungan pemerintah. Namun, hal ini memerlukan laporan aktif dari masyarakat, baik dari Kader Surabaya Hebat (KSH), PKK, maupun pengurus RT/RW.
“Jadi kalau ada masalah fasum atau anak tidak bisa sekolah, itu harusnya selesai di RW dengan pemerintah kotanya turun. Tapi apakah pemerintah kota sendiri bisa? Tentu tidak bisa kalau tidak ada laporan, tidak ada pergerakan dari RW,” katanya.
Dengan adanya keterlibatan aktif dari berbagai elemen masyarakat, Kampung Pancasila diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera.***








