PARLEMENTARIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya dalam menangani kasus kenakalan remaja. Salah satu langkah yang dilakukan adalah evaluasi efektivitas program pembinaan bagi remaja yang terjaring dalam tindakan negatif. Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah peningkatan perilaku tidak terkendali serta memberikan pendidikan yang lebih mendalam kepada anak-anak yang terlibat.
Penurunan Angka Kasus Kenakalan Remaja
Menurut data dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya, jumlah kasus kenakalan remaja mengalami penurunan signifikan. Tahun lalu, tercatat lebih dari 450 kasus, sementara pada tahun 2026 ini jumlahnya turun di bawah 100. Ida Widayati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, menyebutkan bahwa penurunan ini berkaitan dengan penerapan kebijakan jam malam bagi anak-anak.
“Alhamdulillah ada penurunan yang cukup signifikan, terutama sejak diberlakukannya kebijakan jam malam bagi anak-anak,” ujar Ida Widayati.
Perubahan Pola Pembinaan
Sebelumnya, remaja yang terjaring kasus hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP sebelum dipulangkan. Namun, mulai pertengahan tahun lalu, mereka ditempatkan di Rumah Aman untuk mendapatkan pembinaan menyeluruh.
“Kami ubah polanya. Tidak hanya konseling singkat, tetapi ada edukasi yang lebih mendalam. Anak-anak kami berikan pemahaman tentang dampak kriminalitas, bahaya narkoba bagi kesehatan, hingga penguatan wawasan kebangsaan,” jelas Ida.
Program pembinaan tersebut berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama masa ini, anak mendapat pendampingan psikologis dan juga kesempatan untuk belajar secara daring.
Bentuk-bentuk Kenakalan yang Terjadi
Beberapa bentuk kenakalan yang sering terjadi antara lain konsumsi minuman keras, tawuran, dan keterlibatan dalam geng motor. Menurut Ida, kebijakan dan program yang diterapkan telah menunjukkan dampak positif. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di Rumah Aman kini semakin berkurang, seiring meningkatnya kesadaran dan efek jera dari pendekatan yang diterapkan.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Selain kebijakan jam malam dan pembinaan di Rumah Aman, Pemkot Surabaya juga mendorong peran keluarga dan lingkungan melalui edukasi orang tua. Tujuannya adalah agar pengawasan terhadap anak lebih optimal.
“Kami berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga sangat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” tambah Ida.
Strategi Jangka Panjang
Pemkot Surabaya menilai bahwa pendekatan yang diterapkan saat ini sudah cukup efektif. Namun, mereka tetap berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem dan memastikan bahwa setiap remaja yang terjaring kasus dapat diberi peluang untuk kembali ke jalur yang benar.
Evaluasi dan inovasi dalam program pembinaan remaja menjadi salah satu strategi utama Pemkot Surabaya dalam mengurangi tingkat kenakalan. Dengan kombinasi kebijakan jam malam, pendekatan pendidikan, dan partisipasi aktif dari keluarga, harapan besar terletak pada pembentukan generasi muda yang lebih sadar dan bertanggung jawab.***











