PARLEMENTARIA.ID – Serangan besar-besaran oleh rezim Israel terhadap berbagai wilayah di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, telah mengakibatkan kematian yang signifikan dan kerusakan luas. Menurut laporan pihak berwenang setempat, jumlah korban tewas mencapai 254 orang, sementara lebih dari 1.165 orang terluka dalam peristiwa ini.
>Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon tidak akan masuk dalam gencatan senjata yang sedang dipertimbangkan. Hal ini menunjukkan niat pihak Israel untuk tetap melanjutkan operasi militer di wilayah tersebut. Serangan ini digambarkan sebagai yang terberat sejak agresi Israel terhadap Lebanon dimulai pada awal Maret, bersamaan dengan aksi serupa dari Amerika Serikat dan Iran.
Wilayah Terdampak Luas
Situs berita Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel menargetkan daerah pemukiman padat penduduk, mulai dari ibu kota Beirut hingga wilayah Saida, Nabatieh, dan Bekaa di bagian timur Lebanon. Media lokal mengutip Palang Merah Lebanon, yang menyebutkan bahwa jumlah korban bisa mencapai 300 orang, dengan banyak lagi yang terluka.
Menurut Reuters, satu serangan di lingkungan padat penduduk di Beirut menewaskan setidaknya 12 orang. Rumah sakit di Lebanon mengalami beban berat akibat jumlah korban yang meningkat, sehingga mereka meminta bantuan darah secara mendesak.
Gencatan Senjata yang Tidak Berhasil
Serangan intensif Israel terjadi hanya beberapa jam setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat atas persyaratan gencatan senjata 15 hari yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini juga mencakup penghentian agresi Israel terhadap Lebanon. Namun, langkah ini tidak berhasil menghentikan serangan Israel.
Kepala Staf rezim Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa pihaknya akan terus menyerang Lebanon dan memanfaatkan setiap peluang operasional yang tersedia. Agresi Israel terhadap Lebanon telah menyebabkan ratusan kematian dan hampir satu juta orang mengungsi dari rumah mereka dalam lebih dari sebulan perang tanpa pandang bulu.
Perlawanan Hizbullah
Meski menghadapi serangan berat, Hizbullah, kelompok perlawanan Lebanon, tetap berkomitmen untuk membela Iran dan perjuangan regional melawan AS dan Israel. Anggota parlemen Lebanon, Hassan Fadlallah, menyatakan bahwa Israel berusaha menghindari keputusan gencatan senjata terkait front Lebanon untuk mengimbangi kekalahan mereka dalam agresi terhadap Iran.
Fadlallah menambahkan bahwa “kejahatan Israel di Lebanon tidak dapat menghapus citra kekalahannya di hadapan Iran” atau mundurnya pasukan Israel di hadapan perlawanan Lebanon sebelum mencapai Sungai Litani.
Dampak Jangka Panjang
Serangan Israel terhadap Lebanon tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga memberikan dampak psikologis dan sosial yang mendalam bagi masyarakat setempat. Banyak keluarga kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal mereka. Situasi ini memperkuat keinginan masyarakat untuk mendapatkan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
Dengan situasi yang semakin memburuk, dunia internasional terus memantau perkembangan konflik ini. Harapan besar ditempatkan pada upaya diplomatik yang dapat menghentikan kekerasan dan membawa perdamaian ke wilayah yang terkena dampak serangan.***











