PARLEMENTARIA.ID – Operasi modifikasi cuaca yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Jawa Timur resmi berakhir setelah berlangsung selama sepuluh hari. Proses ini dimulai pada 16 Maret 2026 dan menjadi upaya untuk mengurangi risiko bencana akibat curah hujan tinggi. Meski sejumlah langkah telah dilakukan, tiga wilayah di Jawa Timur masih mengalami genangan air akibat banjir yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Tujuan dan Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa operasi ini dilakukan atas instruksi langsung dari Gubernur Jawa Timur. Tujuannya adalah untuk mitigasi potensi cuaca ekstrem yang bisa menyebabkan bencana alam seperti banjir atau tanah longsor.
“Operasi modifikasi cuaca dimulai tanggal 16 Maret kemarin dan ini merupakan hari terakhir,” ujar Gatot saat memberikan keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa sebanyak puluhan sorti penyemaian awan telah dilakukan dalam rangka mengurangi intensitas hujan yang terjadi di wilayah Jawa Timur.
Kendala dalam Pelaksanaan Operasi
Meski operasi modifikasi cuaca telah dilakukan, kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan armada. Tidak semua daerah dapat dijangkau secara bersamaan, sehingga beberapa wilayah seperti Pasuruan masih mengalami dampak luapan air akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Selain itu, kondisi cuaca yang tidak stabil juga memengaruhi hasil operasi. Hujan lebat yang terus-menerus mengguyur wilayah hulu hingga hilir membuat pengendalian curah hujan menjadi lebih sulit.
Wilayah Terdampak Banjir
Saat ini, tiga wilayah di Jawa Timur masih mengalami genangan air akibat banjir. Di antaranya adalah:
- Mojokerto: Kondisi darurat terjadi akibat jebolnya tanggul sungai yang sebelumnya sempat diperbaiki. Kerusakan tersebut menyebabkan air kembali meluap dan merendam permukiman warga sejak pagi hari.
- Lamongan: Wilayah ini mengalami banjir terlama karena tingginya elevasi air di aliran Bengawan Solo yang menghambat proses pembuangan air. Curah hujan lokal yang masih terjadi turut memperparah kondisi di kawasan tersebut.
- Pasuruan: Masih menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir meskipun operasi modifikasi cuaca telah selesai.
Upaya BPBD Jatim dalam Penanganan Bencana
BPBD Jatim terus menyiagakan personel di wilayah terdampak guna memastikan distribusi bantuan logistik dan proses evakuasi berjalan optimal. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berfluktuasi hingga akhir Maret.
Gatot Soebroto menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan situasi dan siap melakukan langkah-langkah penanggulangan jika diperlukan. “Kami akan tetap siaga dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keamanan masyarakat,” katanya.
Peran Masyarakat dalam Menghadapi Bencana
Selain upaya pemerintah, peran masyarakat juga sangat penting dalam menghadapi bencana. Masyarakat diimbau untuk selalu memperhatikan informasi cuaca dari sumber resmi dan menghindari daerah rawan banjir. Selain itu, persiapan kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat juga disarankan sebagai bentuk antisipasi.***

>










