PARLEMENTARIA.ID – Bulan Mei 2026 menjadi bulan yang menarik bagi berbagai sektor usaha di Indonesia. Banyaknya hari libur nasional dan kebijakan work from home (WFH) memberikan tantangan sekaligus peluang bagi pelaku bisnis. Dari sisi manufaktur, situasi ini memaksa perusahaan untuk tetap menjaga produktivitas meski pola kerja mengalami perubahan. Sementara itu, sektor ritel justru merasa optimis dengan adanya momentum peningkatan konsumsi masyarakat.
Perusahaan Manufaktur Menghadapi Tantangan Produktivitas
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa dunia usaha harus terus beradaptasi dengan dinamika pasar dan persaingan. Ia menekankan pentingnya efisiensi dalam operasional perusahaan, namun juga menekankan bahwa daya saing tidak boleh dikorbankan.
“Ya jadi memang ini kan semuanya, di dunia usaha tentu mesti menyesuaikan dengan, satu, permintaan pasar, dan yang kedua, persaingan,” ujar Anindya saat ditemui di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Ia menilai bahwa surplus perdagangan bulanan Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang signifikan. “Ini merupakan suatu yang tidak boleh disia-siakan. Jadi apa yang harus dilakukan? Di dunia usaha harus dilakukan, karena ujungnya akan membawa ke pertumbuhan ekonomi, dan juga kepada lapangan kerja,” tambahnya.
Anindya juga menegaskan bahwa setiap perusahaan memiliki otonomi dalam menentukan strategi operasional, asalkan produktivitas tetap dijaga. “Jadi kalau saya rasa sih, disikapi secara bijak perusahaan per perusahaan, tapi yang penting kembali lagi bagaimana bisa terus produktif, walaupun tetap efisien dan juga ya membawa pertumbuhan,” katanya.
Sektor Ritel Bersyukur atas Peningkatan Konsumsi
Berbeda dengan sektor manufaktur, sektor ritel justru merasa positif terhadap banyaknya hari libur di bulan Mei. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyambut baik kondisi ini.
“Oh bagus, bagus itu,” kata Budihardjo.
Menurutnya, periode libur panjang selalu menjadi pendorong utama peningkatan kunjungan ke pusat perbelanjaan dan aktivitas belanja masyarakat. “Sektor ritel senang, offline ya. Kalau ada libur pasti mal rame, orang belanja,” ujarnya.
Budihardjo melihat peluang dari dinamika global, termasuk pelemahan rupiah yang membuat Indonesia lebih menarik bagi wisatawan asing. “Kita harapkan dengan situasi global ini Indonesia paling nggak turisnya gabung masuk ke Indonesia dulu. Jadi kami melihat peluang untuk sektor ritel perdagangan dalam negeri, belanja di Indonesia,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan WFH yang memengaruhi pola kunjungan konsumen, dengan pergeseran dari pusat kota ke wilayah pinggiran. “Kebijakan WFH juga kita lihat, membuat mal-mal yang di pinggiran ramai. Jadi orang sekarang Jumat itu pada jalan-jalannya ke mal di Bekasi, Serpong, Tangerang. Sekarang mal di sana ramai,” ujarnya.
Tantangan dan Peluang di Tengah Dinamika Pasar
Meskipun ada perbedaan pandangan antara sektor manufaktur dan ritel, keduanya sama-sama menghadapi tantangan dan peluang di tengah dinamika pasar. Anindya menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan agar momentum belanja tidak terganggu. “Yang kita penting itu stabil. Jangan sampai barang kosong, stok mesti cukup. Karena pada saat semuanya ada orang belanja harus ada barangnya,” katanya.
Dengan kondisi ini, Mei 2026 menjadi bulan yang kontras bagi pelaku usaha: manufaktur dituntut tetap produktif di tengah banyak hari libur, sedangkan sektor ritel justru menikmati momentum peningkatan konsumsi masyarakat.








