PARLEMENTARIA.ID – Kebijakan jam malam yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya telah menunjukkan dampak signifikan dalam mengurangi angka kenakalan remaja. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah kasus yang ditangani oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah kota berhasil memberikan efek jera dan meningkatkan kesadaran para remaja.
Menurut data yang dirilis oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), jumlah kasus kenakalan remaja pada tahun lalu mencapai lebih dari 450 kasus. Namun, pada periode Januari hingga April 2026, jumlahnya turun drastis hingga berada di bawah 100 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diterapkan memiliki dampak nyata dalam meminimalkan tindakan negatif yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
Pendekatan Penanganan yang Lebih Intensif
Selain kebijakan jam malam, perubahan pendekatan dalam penanganan kasus kenakalan remaja juga menjadi faktor utama dalam keberhasilan tersebut. Dulu, anak-anak yang terjaring hanya menjalani konseling singkat sebelum dipulangkan. Kini, pihak DP3APPKB menerapkan model pembinaan yang lebih intensif. Anak-anak yang terlibat dalam kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, atau keterlibatan geng motor tidak langsung dipulangkan, tetapi terlebih dahulu ditempatkan di Rumah Aman untuk mendapatkan pembinaan menyeluruh.
Program ini berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama masa pembinaan, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendampingan psikologis, tetapi juga tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan mereka. Dengan pendekatan ini, diharapkan para remaja dapat belajar dari kesalahan mereka dan kembali ke lingkungan yang lebih positif.
Efektivitas Kebijakan Jam Malam
Penerapan jam malam di Surabaya dinilai sangat efektif dalam menekan potensi kenakalan remaja. Dengan batasan aktivitas malam hari, anak-anak lebih sedikit terpapar lingkungan yang berpotensi menimbulkan tindakan negatif. Selain itu, pengawasan keluarga juga semakin ketat, sehingga anak-anak lebih sadar akan konsekuensi dari tindakan mereka.
“Kebijakan pembatasan aktivitas malam hari menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kenakalan remaja,” ujar Ida Widayati, Kepala DP3APPKB Surabaya. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya membantu mengurangi kasus, tetapi juga memberikan ruang bagi para remaja untuk lebih fokus pada pendidikan dan pengembangan diri.
Dampak Jangka Panjang
Program pembinaan yang diterapkan telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu dan secara bertahap menunjukkan dampak positif. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di rumah aman kini semakin berkurang, seiring meningkatnya kesadaran dan efek jera dari pendekatan yang diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berpotensi memberikan dampak jangka panjang.
Dengan kombinasi antara kebijakan jam malam dan program pembinaan yang intensif, Surabaya berhasil menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi para remaja. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dan membantu mencegah terulangnya tindakan kenakalan di masa depan.***











