MDINETWORK – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan pandangan terkait maraknya kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang menimpa para kepala daerah. Ia menyoroti bahwa sistem pemilihan langsung tidak selalu menghasilkan pemimpin yang berkualitas, meskipun memiliki kelebihan tertentu.
Pertanyaan Mendasar: Siapa yang Memilih Pemimpin?
Tito menjawab dengan singkat saat ditanya tentang alasan banyaknya kasus OTT yang melibatkan pejabat daerah. “Yang milih siapa? Rakyat, ya kan?” ujarnya. Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa sistem pilkada langsung tidak sepenuhnya bisa dianggap sebagai solusi ideal.
Menurutnya, ada kemungkinan mekanisme rekrutmen yang digunakan dalam pemilihan langsung tidak sepenuhnya efektif. “Ada pemimpin yang bagus, ada juga yang tidak,” tambahnya.
Masalah Sistematis dan Kebijakan yang Perlu Diperbaiki
Tito mengungkapkan bahwa fenomena korupsi dan pelanggaran etika di kalangan kepala daerah bukan hanya sekadar kasus individu. Ia menilai ada masalah lebih mendasar yang perlu diperhatikan.
“Kasus ini terjadi berulang kali dalam waktu singkat. Artinya, ada problem sistematis,” katanya. Ia menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan kembali mekanisme pemilihan yang digunakan, termasuk potensi biaya politik yang tinggi dan kurangnya jaminan integritas calon pemimpin.
Biaya Politik Tinggi dan Risiko Korupsi
Salah satu kelemahan dari sistem pilkada langsung adalah biaya politik yang sangat mahal. Tito menegaskan bahwa hal ini bisa menjadi faktor pemicu korupsi. “Pilkada langsung memiliki sisi positif, tapi juga menyimpan risiko. Biaya politik yang besar tidak menjamin bahwa yang terpilih adalah orang yang baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sistem pemilihan harus dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memastikan kualitas pemimpin yang terpilih.
Contoh Kasus Terbaru yang Menjadi Perhatian
Beberapa waktu terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering melakukan penangkapan terhadap kepala daerah dalam operasi tangkap tangan. Salah satu contohnya adalah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, yang ditangkap karena dugaan pemerasan dan penerimaan uang dalam anggaran 2025-2026.
Peristiwa ini memicu diskusi tentang bagaimana sistem pemilihan dapat diperbaiki agar tidak lagi menghasilkan pemimpin yang rentan terlibat korupsi.
Perlu Penyempurnaan Sistem Rekrutmen
Tito menilai bahwa sistem rekrutmen untuk kepala daerah perlu dievaluasi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa partisipasi rakyat dalam pemilihan penting, tetapi juga harus diiringi dengan mekanisme pengawasan yang ketat.
“Jika sistem rekrutmen tidak diperbaiki, maka risiko korupsi akan tetap tinggi,” katanya.
Perspektif Masyarakat dan Kebijakan yang Diambil
Survei LSI menunjukkan bahwa mayoritas warga ingin kepala daerah tetap dipilih langsung oleh rakyat. Namun, Tito menekankan bahwa partisipasi rakyat harus diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas.
Ia juga menyatakan bahwa pemerintah akan terus memperkuat pengawasan terhadap kinerja kepala daerah.***


>



