PARLEMENTARIA.ID – Sebuah kisah menggemparkan terjadi di perairan Somalia, tempat empat warga Indonesia disandera oleh kelompok bajak laut. Salah satu dari mereka adalah Ashari Samadikun, kapten kapal tanker MT Honour 25. Dalam situasi yang penuh ketegangan, Ashari berusaha menenangkan para perompak dengan menyampaikan bahwa dirinya seorang Muslim.
Detik-Detik Penyergapan yang Mencekam
Santi Sanaya, istri Ashari, masih terus mengingat pesan suara yang diterimanya dari suaminya. Pesan itu menyebutkan bahwa kapal sedang diserang oleh bajak laut. Saat itu, Ashari dan krunya dalam situasi bahaya. Meskipun teleponnya sempat aktif, setelah beberapa jam, komunikasi terputus.
Ashari bersama 17 pelaut lainnya disandera saat berlayar dari Oman menuju Somalia. Empat dari mereka adalah warga negara Indonesia, termasuk Adi Faizal, Wahudinanto, dan Fiki Mutakin. Sementara sisanya merupakan warga asing.
Perahu Bajak Laut yang Mengancam
Dalam momen penting, Ashari diberi kesempatan untuk menggunakan telepon kapal agar bisa berkomunikasi dengan keluarganya dan perusahaan. Dalam percakapan tersebut, Ashari bercerita tentang pengalaman mengerikan selama penyergapan. Ia mengatakan bahwa beberapa kali ditodong senjata oleh perompak.
Pada salah satu panggilan video, Ashari menunjukkan bekas tembakan di bagian kapal. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi. Selama sepekan disandera, Ashari dan krunya dalam kondisi sehat. Mereka tetap diberi makan dan diizinkan beribadah.
Pernyataan “Assalamualaikum, Jangan Tembak Saya”
Dalam sebuah percakapan dengan Santi, Ashari mencoba menenangkan para perompak dengan mengatakan bahwa dirinya seorang Muslim. Ia mengucapkan “Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim.” Perompak pun bertanya apakah ia benar-benar Muslim, dan Ashari menjawab iya. Perompak juga mengatakan bahwa mereka juga Muslim.
Santi meyakini bahwa status agama ini sangat penting dalam situasi yang mencekam. Ia berharap pemerintah dapat membantu membebaskan suaminya dan krunya. “Semoga pemerintah bisa membantu, terutama pak Presiden Prabowo. Semoga suami saya dan kru lain termasuk orang diantaranya warga Indonesia dibantu kepulangannya ke Indonesia semua dalam keadaan selamat dan sehat,” harapnya.
Peran Pemerintah dalam Menyelesaikan Masalah
Kementerian Luar Negeri RI membenarkan adanya empat WNI yang ditawan bajak laut Somalia. Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, mengaku telah menindaklanjuti laporan dari kapal MT Honour 25 yang dibajak di perairan sekitar Hafun, Somalia pada Rabu kemarin (22/04). KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia.
Pendekatan Baru Melalui Ormas Islam
Peneliti Hubungan Internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Athiqah Nur Alami, menyarankan pendekatan baru melalui ormas Islam untuk menjamin keselamatan dan pembebasan sandera. Pendekatan ini melibatkan tokoh agama dan masyarakat, serta jaringan keagamaan dalam upaya perdamaian, resolusi konflik, kemanusiaan, dan dialog lintas budaya.
Athiqah menyatakan bahwa Indonesia memiliki kedekatan dalam keyakinan dengan Somalia, di mana hampir 100% penduduk Somalia beragama Islam Sunni. “Ini kan seringkali masalahnya tadi tidak cukup hanya di tingkat negara… sehingga perlu ada jalur-jalur yang sifatnya informal. Lewat jalur tokoh agama atau tokoh masyarakat. Antara mungkin ormas kita di sini, ormas keagamaan,” katanya.
Faktor-Faktor yang Memicu Insiden Bajak Laut
Menurut Athiqah, kemunculan insiden bajak laut di perairan Somalia baru-baru ini masih disebabkan faktor klasik: ekonomi-sosial-politik di Somalia yang “pelik”. Lemahnya tata kelola pemerintahan, kemiskinan pesisir, dan ketiadaan pekerjaan alternatif menjadi penyebab utama. Penangkapan ikan ilegal di perairan Somalia, perompakan menjadi sebuah model industri, serta ketergantungan patroli laut internasional juga menjadi faktor yang mendorong perompakan.
Faktor lainnya adalah konsentrasi patroli laut internasional yang sedang terpecah. “Karena kita tahu perhatian lagi banyak di Selat Hormuz, lalu di Ukraina atau bahkan di wilayah Timur Tengah lainnya, Lebanon, Palestina, dan yang lain, sehingga mungkin patrolinya tadi saya bilang mengendor,” katanya.
Modus Perompakan yang Masih Berlaku
Menurut Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, model pembajakan perompak Somalia tak banyak perubahan. Mereka banyak mengincar kapal tanker karena bagian dek kapal yang rendah sehingga mudah dipanjat. Dalam operasinya, para perompak menggunakan kapal induk besar yang mengangkut kapal kecil. Tujuannya, agar area targetnya bisa lebih luas bahkan di luar teritorial Somalia.
“Kami akan memonitor kapal-kapal target. Ketika kapal target lewat dan mendekat dan tidak menyadari memang hanya ada kapal yang besar, dan lokasinya juga agak jauh, baru dilakukan intercept (penangkapan) dengan kapal yang lebih kecil,” katanya.
Pengalaman Masa Lalu yang Menyedihkan
Insiden penyanderaan WNI di Somalia bukan pertama kali terjadi. Pada 2012, kapal FV Naham yang berbendera Taiwan yang mengakut 26 kru, termasuk lima WNI disandera perompak Somalia. Empat tahun kemudian, lima dari empat WNI baru dibebaskan setelah perusahaan membayar uang jaminan kepada perompak. Satu WNI meninggal karena sakit.
Selama penyanderaan, para penyintas menceritakan krisis kemanusiaan yang mereka alami, termasuk dalam menerima air bersih. “Air minum yang diberikan tidak sampai 500 ml sehari. Air mentah yang kadang-kadang kalau diterima ada kotoran untanya, kotoran kambingnya,” kata seorang penyintas.
Keberhasilan Operasi Pembebasan Sandera
Pada 2011, kasus penyanderaan lain terjadi saat kapal kargo MV Sinar Kudus disandera perompak Somalia. Bedanya, MV Sinar Kudus berbendera Indonesia dengan awak kapal sebanyak 20 WNI. Dalam kasus ini, pasukan militer Indonesia dikerahkan dalam misi luar negeri pertama penyelamatan sandera. Operasi ini berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal, tanpa korban jiwa setelah penyanderaan berlangsung selama 1,5 bulan.
Situasi Terkini di Perairan Somalia
Di tengah situasi ini, Badan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Bersatu (UKMTO) menaikkan tingkat ancaman di perairan Somalia menjadi “substansial”. Menurut catatan UKMTO, setidaknya empat kapal telah menjadi sasaran dalam insiden pembajakan yang diduga terjadi dalam seminggu terakhir, termasuk sebuah kapal ikan, dan tanker pengangkut minyak Honour 25.
“Karena meningkatnya ancaman kemungkinan aktivitas PAG (Pirate Action Group), kapal-kapal disarankan untuk melintas dengan hati-hati,” kata UKMTO dalam sebuah pernyataan, seraya mencatat bahwa cuaca mendukung untuk operasi kapal kecil.
Harapan Keluarga untuk Kepulangan Ashari
Keluarga Ashari di Sulawesi Selatan masih menanti kepulangan anggota keluarganya yang disekap bajak laut. Dari kacamata keluarga besarnya, Ashari merupakan orang yang sangat peduli dengan keluarga. “Sering bertanya soal keadaan keluarganya kalau dia sudah pergi, tanya anak-anak, terutama pada ibunya. Selalu,” kata Syamsuddin Dg Ngawing.
Meski belum tahu nasib ke depannya, pihak keluarga sudah punya nazar menyambut kepulangan Ashari dengan selamat. “Insyaallah saya akan kumpul bareng dengan keluarga untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita,” kata Syamsuddin.







