MDINETWORK – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan perubahan drastis dalam sikapnya terhadap Iran. Dalam waktu singkat, ia berubah dari ancaman memusnahkan Iran menjadi setuju dengan gencatan senjata selama 14 hari. Apa yang mendorong perubahan ini?
Alasan Di Balik Perubahan Sikap Trump
Dalam pengumumannya di media sosial pada Selasa (7/4/2026), Trump menyebut bahwa gencatan senjata telah dicapai dengan Iran. Pengumuman ini dilakukan hanya 1,5 jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan untuk menghancurkan Iran jika blokade Selat Hormuz tidak dibuka.
Menurut laporan BBC, kesepakatan ini memberikan ruang bagi Trump untuk menghindari pilihan berbahaya: melanjutkan konflik atau mundur dan merusak kredibilitasnya. Meski ia mengklaim bahwa tujuan operasi militer AS telah tercapai, tekanan dari berbagai pihak juga turut memengaruhi keputusannya.
Tekanan Politik dan Moral
Trump dihadapkan pada penolakan keras dari anggota Kongres AS Partai Demokrat. Mereka mengecam ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran sebagai kegagalan moral. Anggota Kongres Joaquin Castro menulis di X, “Jelas presiden terus mengalami penurunan dan tidak layak memimpin.”
Selain itu, Paus Leo XIV, yang berasal dari AS, menyebut ancaman Trump tidak dapat diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan dari dunia internasional dan moral semakin besar.
Risiko Perang Abadi
Pada akhirnya, Trump mungkin mundur karena kebenaran sederhana: eskalasi konflik berisiko melibatkan AS dalam “perang abadi” yang telah menghantui para pendahulunya. Padahal, ia pernah berjanji akan menghindari perang abadi kepada pemilih jika mereka memilihnya kembali.
Iran memiliki riwayat panjang bertahan dalam konflik. Mulai dari penyanderaan warga AS selama 444 hari pada akhir 1979 hingga perang Iran-Irak yang berlangsung bertahun-tahun, kepemimpinan Iran menunjukkan ketangguhan. Mereka juga mendukung kelompok seperti Hamas dan Hizbullah, yang membuat AS harus berhati-hati dalam mengambil tindakan.
Operasi Militer Berisiko Tinggi
Para analis pertahanan menilai bahwa menguasai Selat Hormuz, yang merupakan jalur transportasi minyak global, membutuhkan sumber daya besar. Ben Connable, Direktur Eksekutif Battle Research Group, menjelaskan bahwa AS harus mempertahankan kendali atas 600 kilometer wilayah Iran untuk mengamankan selat tersebut.
Ini memerlukan tiga divisi infanteri AS, sekitar 30.000-45.000 tentara. Operasi ini akan berlangsung selama bertahun-tahun, mirip dengan perang di Afghanistan, Vietnam, atau Irak.
Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata
Gencatan senjata antara AS dan Iran tercapai setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mendesak Trump untuk memperpanjang tenggat serangan selama dua pekan. Ia juga meminta Iran membuka Selat Hormuz selama periode ini.
Dua pekan menjadi waktu favorit Trump untuk mengulur waktu saat menghadapi keputusan besar. Sebelumnya, ia juga menggunakan waktu dua pekan dalam negosiasi perang Ukraina-Rusia, meski hasilnya belum signifikan.
Konsistensi Sikap Trump yang Tidak Jelas
Perubahan sikap Trump dalam waktu singkat bukanlah hal yang baru. Kebijakannya sering kali berubah atau bertentangan satu sama lain. Contohnya, ia awalnya mengancam tarif resiprokal pada April 2025, lalu menariknya. Ia juga pernah ingin mengambil alih Greenland, namun kemudian menyetujui kerangka kesepakatan dengan NATO.
Berdasarkan pengalaman ini, masih ada kemungkinan bahwa Trump akan kembali berubah sikap dalam dua minggu gencatan senjata yang disepakati. Komunitas internasional harus siap menghadapi manuver baru dari Presiden AS.***


>








