MDINETWORK – Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang wilayah Laut Maluku, dekat Pulau Ternate, pada pagi hari Kamis. Peristiwa ini menewaskan satu orang dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan serta memicu kepanikan di kalangan warga setempat.
>Gempa terjadi pada pukul 06:48 waktu setempat (22:48 GMT) dengan kedalaman 35 km. Meskipun awalnya diberitakan adanya ancaman tsunami, peringatan tersebut kemudian dicabut setelah dua jam. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC) sebelumnya memperingatkan kemungkinan gelombang tsunami yang tingginya kurang dari 0,3 meter di sejumlah wilayah seperti Guam, Jepang, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, dan Taiwan.
Seorang wanita berusia 70 tahun di Sulawesi Utara tewas akibat tertimpa puing-puing bangunan, sementara satu orang lainnya cedera kaki setelah melompat dari bangunan. Informasi ini disampaikan oleh agensi berita nasional Indonesia, Antara.
Banyak warga yang tinggal di daerah terdampak mengungkapkan bahwa gempa ini merupakan salah satu yang paling kuat mereka alami dalam enam tahun terakhir. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan pengalaman mereka kali ini lebih hebat daripada gempa-gempa sebelumnya.
Pengalaman Warga Saat Gempa Terjadi
Isvara Safitri, seorang jurnalis yang tinggal di pusat Manado, menggambarkan bagaimana perabot di kamarnya bergetar selama beberapa detik. Ia mengatakan, “Sangat kuat… Kepala saya bahkan merasa pusing.” Ia juga menyebutkan bahwa jalan di luar rumahnya ikut bergetar, membuatnya merasa gempa ini adalah yang terkuat dalam enam tahun terakhir.
Yayuk Oktiani, warga Bitung, mengatakan bahwa meski ia sering mengalami gempa, namun kali ini gempa terasa sangat berbeda. Ia sedang berada di pasar saat gempa terjadi, dan banyak toko mengalami pemadaman listrik. Orang-orang langsung berlarian keluar saat gempa semakin kuat.
Di Ternate, Budi Nurgianto mengatakan bahwa dinding rumahnya bergetar selama lebih dari satu menit. Ia langsung keluar rumah dan melihat suasana panik di luar. “Banyak orang keluar… Saya bahkan melihat beberapa orang meninggalkan rumah tanpa selesai mandi,” katanya.
Dampak Kerusakan dan Evakuasi Darurat
Setelah gempa besar, sejumlah gempa susulan dengan kekuatan 5,5 dan 5,2 tercatat. Pihak berwenang memperingatkan kemungkinan gempa susulan lebih lanjut. Badan Geologi Nasional melaporkan kerusakan pada bangunan dan cedera pada korban, meskipun tidak memberikan detail lebih lanjut.
Video dari tim pencarian dan penyelamatan di Manado menunjukkan warga dan petugas berjalan melewati puing-puing di kompleks olahraga. Beberapa perabot besar terlempar ke lantai, sementara struktur logam terlihat melengkung.
Seorang pasien di Rumah Sakit Siloam Manado menceritakan bagaimana evakuasi dilakukan secara cepat. “Kami sedang minum teh… Awalnya kami tidak sadar itu gempa. Tapi kemudian ada anak yang berteriak, ‘Turun, cepatlah,’ ” kata Admini, 69 tahun.
Petugas medis segera membuat area pertolongan darurat di luar ruangan dan dalam kendaraan. “Semua orang berkumpul di luar,” kata Admini. “Beberapa menggunakan kursi roda, yang lain saling membantu.”
Kejadian Gempa di Wilayah Bersejarah
Manado dan Bitung terletak di Pulau Sulawesi, sementara Ternate adalah pulau vulkanik di provinsi Maluku Utara. Wilayah ini dikenal memiliki aktivitas seismik tinggi, tetapi gempa kali ini terasa lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk tetap waspada dan siap menghadapi gempa bumi yang bisa terjadi kapan saja. Dengan kondisi geografis yang rentan, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan persiapan dan mitigasi bencana.***











