PARLEMENTARIA.ID – Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan yang gagal menunjukkan adanya ketegangan yang semakin memburuk dalam hubungan bilateral. Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, memberikan analisis mendalam mengenai poin-poin utama yang menjadi penyebab kegagalan tersebut. Ia menyatakan bahwa perundingan ini tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga terhadap stabilitas wilayah khususnya di kawasan Teluk Persia.
>“Sudah terbukti perundingan gagal. Saya kira ini menunjukkan bahwa Iranlah yang sekarang mendikte Amerika,” ujar pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf pada Minggu (12/4/2026). Ia menjelaskan bahwa selama ini AS sering kali memainkan peran dominan dalam konflik regional, tetapi kini situasi berubah. Iran tampaknya mulai mengambil alih inisiatif dengan memaksa AS untuk kembali berdiskusi.
Peran Mojtaba Khamenei dalam Dinamika Hubungan Iran-AS
Faisal Assegaf juga menyebut pernyataan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sebagai faktor penting dalam dinamika hubungan antara Iran dan AS. Meskipun pernyataan tersebut tidak sepenuhnya dirinci, ia menekankan bahwa pernyataan Khamenei mencerminkan sikap keras Iran terhadap tuntutan AS.
“Selama ini Amerika mendikte negara-negara Muslim lainnya dalam konflik ini. Kini Iranlah yang mendikte Amerika. Iran pula yang memaksa Amerika berkali-kali meminta perundingan, serta mendorong penghentian perang melalui gencatan senjata,” lanjutnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tidak lagi bersikap pasif dalam menghadapi tekanan internasional.
Reaksi Masyarakat dan Kepentingan Nasional
Tidak hanya dari kalangan pejabat, reaksi masyarakat Iran juga sangat kuat terhadap kegagalan perundingan ini. Sejumlah warga Teheran menyatakan siap berkorban nyawa dan tidak akan memberikan satu inci tanah pun kepada pihak asing. Hal ini mencerminkan rasa nasionalisme yang tinggi di tengah situasi yang memanas.
Di sisi lain, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan ke Rusia untuk membahas isu-isu global, termasuk masalah energi dan keamanan. Kunjungan ini menunjukkan bahwa negara-negara non-ASEAN juga memperhatikan perkembangan di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah kegagalan perundingan antara Iran dan AS.
Isu Selat Hormuz dan Ancaman Militer
Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak mentah, menjadi sorotan utama setelah kegagalan perundingan. Trump sempat mengancam blokade selat ini, meskipun ancaman tersebut belum terwujud. Namun, situasi ini tetap menjadi potensi konflik yang bisa memicu eskalasi lebih lanjut.
Pihak Iran juga menegaskan bahwa selat ini adalah hak mereka dan tidak dapat dibuka atau ditutup melalui negosiasi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tidak akan mudah terpengaruh oleh tekanan internasional, terlepas dari apa yang disampaikan oleh AS.
Impak Ekonomi dan Energi
Kegagalan perundingan ini juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Harga BBM subsidi stabil, tetapi kenaikan harga pangan dan plastik terus berlanjut. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Dalam konteks energi, eks Menteri ESDM 2014-2016 memberikan masukan mengenai kesulitan dalam konversi energi terbarukan. Masukan ini penting untuk menghadapi krisis energi yang semakin mengkhawatirkan.
Perundingan antara Iran dan AS yang gagal menunjukkan bahwa hubungan bilateral masih jauh dari kata selesai. Faktor-faktor seperti perbedaan pendapat tentang program nuklir, kontrol atas Selat Hormuz, dan sikap keras dari pihak Iran membuat proses diplomasi semakin rumit. Dengan situasi ini, dunia harus siap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang bisa memengaruhi stabilitas global.










