Antisipasi DBD, Erma Susanti Minta Kader Jumantik Intensifkan Promotif dan Preventif

avatar Parlementaria.ID

Parlementaria Surabaya - Antisipasi korban DBD, Erma Susanti, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, meminta dan berharap agar  kader jumantik harus lebih diintensifkan di wilayah Blitar, untuk menekan angka penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jatim yang melonjak musim penghujan.

Erma Susanti menjelaskan, musim penghujan masa perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi penyebab penyakit DBD. Selama pertumbuhan nyamuk tinggi dan penyebaran tinggi maka disitulah berpotensi menjadi titik wabah DBD.

Baca Juga: Irjen Pol Imam Sugianto Jadi Kapolda Jatim, DPRD Harap Sinergitas Keamanan Jelang Pemilu 2024

Jika pertumbuhan dan perkembangan nyamuk menjadi banyak, maka upaya yang harus dilakukan adalah melakukan  pencegahan dengan membuat gerakan untuk berantas jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti dan penyemprotan (fogging). Memang harus menjadi gerakan bersama masyarakat,dan  tidak bisa pemerintah sendirian. Jadi sebenarnya SOP pencegahan dan mengatasi agar tidak naik setiap tahun di musim hujan sudah ada petunjuk Kemenkes, ujar Erma dikonfirmasi, Rabu (18/1/2023).

Upaya mengurangi jentik nyamuk bisa dilakukan dengan gerakan 3M yakni Menguras, Mengubur, dan Menutup.  Gerakan masyarakat lewat kader jumantik itu bisa dilakukan di setiap RT/RW. Pemberantasan jentik nyamuk bisa melalui kerja bakti setiap Minggu sekali.

Kader Jumantik di bawah juga harus sering melakukan survei untuk bisa mengetahui dan mendata tempat yang berpotensi menjadi sarang penyebaran demam berdarah. Datangi ke rumah-rumah warga untuk melihat ada genangan air atau tidak. Sekaligus melakukan edukasi ke masyarakat agar melakukan 3M serta melakukan pencegahan, jelas Erma.

Dia menyebut, pencegahan deman berdarah juga bisa dengan fogging, dan membagikan obat abate untuk ditempatkan di genangan air. Dengan begitu, tidak ada tempat berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti. Setelah upaya preventif dilakukan, Erma menilai tindakan kuratif juga penting sebab masyarakat belum tentu edukatif terhadap kasus DBD. Terkadang masyarakat menganggap sepele ketika badannya terasa mual dan deman.

Mungkin dianggap bukan DBD. Dianggap sakit maag, sakit demam. Jadi perlu diedukasi, kalau sudah minum obat, demamnya belum juga turun selama berhari-hari, maka bisa diindikasi terkena DBD. Sehingga harus segera diperiksakan ke Puskesmas, bebernya.

Baca Juga: Hikmah Bafaqih Jelaskan Terkait Anggaran Pelaksanaan Porprov Jatim 2023

Perempuan yang  berlatar belakang LSM itu meminta kader PKK memberi edukasi ke masyarakat, terutama pada ibu-ibu. Mengingat DBD banyak terjadi pada anak-anak sehingga orang tua melihat gejala demam berdarah harus segera di bawah ke Puskesmas. Tentunya Puskesmas bisa menjangkau pada masyarakat. Namun upaya edukasi bisa dilakukan oleh Puskesmas, kata Erma.

Dia membantah kalau di Kota Blitar tidak ada kader Jumantik. Pasalnya, anggota DPRD Jatim dari dapil Blitar ini mengaku kerap turun ke bawah berkordinasi dengan kader-kader Jumantik bersama petugas Puskesmas setempat.

Erma tak memungkiri beberapa tahun terakhir musim hujan dan kemarau sulit diprediksi akibat Global Climate Change. Sehingga sebaran kasus DBD juga sulit diprediksi. Penyakit DBD tahun ini siklusnya tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Maka, bisa menjadi peringatan untuk semua, baik pemerintah maupun Dinas Kesehatan, jelasmya.

Baca Juga: BK DPRD Jatim Susun Tata Tertib Kedisiplinan Anggota Dewan

Berdasarkan data Dinkes Kota Blitar, kasus DBD melonjak pada tahun 2022 lalu yakni sebanyak 94 penderita. Jika dibandingkan tahun 2021, tercatat ada kenaikan dua kali lipat. Dimana tahun 2021, data Dinkes menyebut ada 49 kasus DBD.

Administrator Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Blitar, dr Trianang Setyawan membeberkan bahwa 94 penderita DBD pada 2022, kebanyakan pasien usia 5-14 tahun yang mencapai 58 orang. Sementara pasien usia 15-44 tahun ada 20 kasus, pasien usia 1-4 tahun ada 08 kasus, pasien usia di bawah satu tahun ada enam kasus, dan pasien usia di atas 45 tahun ada dua kasus. Terdapat satu pasien DBD meninggal dunia pada 2022, kata Trianang.

Ia menilai melonjak penderita DBD akibat faktor cuaca. Bahkan awal Januari 2023 sudah ada beberapa pasien dirawat. Namun masih didiagnosa untuk memastikan DBD atau bukan. (P1)

Editor : Parlementaria