Konfercab GMNI Surabaya Ricuh, Parpol Terlibat?

avatar Parlementaria.ID

Parlementaria Surabaya - Gelaran Konferensi Cabang DPC GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Surabaya yang ke-XXII di wisma Marinda (Markas GMNI Surabaya, red)Jl. Semolowaru, Rabu 16 November 2022 berlangsung ricuh.

Kericuhan di duga dipengaruhi Atmosfer panas pesta pemilu serentak yang masih akan diadakan tahun 2024 nanti. Apalagi ada dugaan indikasi adanya sponsor oleh partai politik tertentu.

Baca Juga: Bawaslu Surabaya Imbau Parpol Tak Kampanye Pada Hari Buruh 2023

Rapat tahunan Gerakan mahasiswa berlambang banteng ini terjadi saat pembahasan pucuk pimpinan yang saat ini dipegang oleh dua kubu yakni kubu Ravi Havids Maheswara dan Ahmad Yusril.

Setidaknya ada dua kubu sama kuat, yakni kubu yang hendak mengakhiri perpecahan dan kubu yang diduga disponsori oleh sebuah partai politik. Akibatnya, pertarungan di dalam Konferensi tidak terhindarkan.

Sejak awal, menurut beberapa peserta, panitia pelaksana cenderung tidak transparan dalam menginformasikan tentang agenda konferensi tersebut. Sehingga beberapa komisariat dari sejumlah kampus di Surabaya belum bisa mempersiapkannya secara matang.

Konferensi yang diharapkan bisa menjadi wadah suara-suara akar rumput, malah tidak diwadahi. Akibat dari situasi ini adalah lahirnya beberapa barisan sakit hati yang merasa gagasannya dimarjinalkan.

Konferensi ini sudah tidak layak, kami merasa dipotong oleh beberapa oknum. Bahkan ketika di dalam, ketua (Ravi Hafidz Maheswara, red) sudah skorsing forum tersebut karena cacat formil. Ujar Muhammad Iqbal, salah satu peserta kepada awak media.

Ketokan palu oleh Ketua GMNI Surabaya juga tidak diindahkan oleh panitia. Beberapa di antara mereka malah membuka forum itu lagi. Padahal, sebagaimana layaknya dalam sebuah berorganisasi, tentu ini tidak dibenarkan. "Sebuah forum yang sudah diskorsing baru dinyatakan sah apabila forum dibuka oleh pihak yang menyekorsing," Sambung Iqbal.

Ketegangan juga bertambah dengan kehadiran beberapa orang yang diduga preman sedang asyik menenggak minuman keras di depan pintu gerbang Gedung Marinda.

"Keterlibatan para preman dalam agenda-agenda partai politik merupakan praktik yang wajar. Tetapi tidak menjadi wajar apabila preman-preman dilibatkan demi mengamankan agenda politik organisasi kemahasiwaan," Ungkap salah satu peserta dari Universitas Airlangga yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga: GMNI Surabaya Gelar Konfercab, Achmad Hidayat Himbau Gelorakan Dan Membumikan Semangat Marhaenisme

Saya melihat sendiri adanya beberapa orang melingkar sembari meminum minuman keras di depan pintu gerbang Gedung Marinda. Preman yang berkedok mahasiswa itu mencegah perwakilan-perwakilan yang bukan dari kelompok yang dikehendaki untuk masuk dalam konferensi. paparnya.

Karena situasi yang tidak kondusif tersebut, beberapa komisariat dari sejumlah kampus memutuskan hengkang dari forum konferensi. Mereka menilai, forum itu sudah tidak sah, apalagi forum itu dibuka kembali tanpa sepengetahuan Ketua GMNI Surabaya.

Gini lo mas, forum itu kan sudah diskorsing sekitar pukul 23.30 (WIB), lalu pak ketua (Ravi Hafidz Maheswara, red) memutuskan pergi dari forum, lha kok tiba-tiba forum itu dibuka kembali oleh panitia pukul 01.30 (WIB), ini kan tidak sah? Sama saja forum itu menganggap mas Ravi itu bukan siapa-siapa. terang Sulthoni.

Kalau GMNI Surabaya sudah diinfiltrasi oleh salah satu Partai Politik, jelas ini sudah keluar dari jalur perjuangan kaum marhaen. Saya sangat kecewa dengan sikap beberapa oknum yang cenderung memaksakan konferensi ini berjalan, karena sudah mengkhianati prinsip independensi kaum marhaenis dan ideologi marhaenismeitu sendiri," Tandasnya.

Diketahui, Dinamika perpecahan di antara kader GMNI sudah bukan kabar baru. Perpecahan itu sudah eksis sejak puluhan tahun lalu baik di tingkat cabang hingga tingkat nasional.

Baca Juga: Komisi II DPR RI Minta KPU Jelasakan Dugaan Kecurangan Verifikasi Parpol

Di Surabaya, organisasi berlambang banteng ini sudah pecah sejak tahun 2002. Artinya, sudah 20 tahun perpecahan dua kubu dan belum bisa disatukan.

Perpecahan itu bermuara kepada GMNI Cabang Surabaya dan GMNI Cabang Kota Surabaya. Perpecahan ini membuat agenda gerakan demi kepentingan kaum marhaen menjadi kontraproduktif.

Sebagaimana gerakan pro rakyat harusnya bisa menurunkan ego untuk menyatukan visi demi memperkuat gerakan. Akan tetapi praktiknya, perpecahan ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu demi mewujudkan libido politik pribadi.

Siapa yang menjadi korban? Jelas, kader akar rumput harus menggendong beban dari ego oknum-oknum tersebut.

Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu ada wacana bahwa GMNI Surabaya yang diketuai oleh Ravi Hafidz Maheswara dan GMNI Kota Surabaya yang diketuai oleh Refi Achmad Zuhair. Isu tentang adanya niat persatuan ini dicium oleh kelompok yang tidak menghendaki persatuan.

Akibatnya, untuk mencegah persatuan maka pihak-pihak yang kontra persatuan menggelar konferensi yang cenderung mendadak.Pendeknya, konferensi dadakan ini cenderung di agendakan untuk melanggengkan perpecahan yang eksis di antara GMNI di Surabaya. (P1)

Editor : Parlementaria