PARLEMENTARIA.ID – Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri dirgantara, namun masih membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat untuk mendukung pertumbuhan sektor ini. Hal ini disampaikan oleh Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara, saat meluncurkan program baru bersama perusahaan pesawat terbang global, Boeing.
Potensi Industri Dirgantara di Indonesia
Tatacipta menyebut bahwa meskipun jumlah pesawat Boeing yang beroperasi di Indonesia cukup banyak, ekosistem pendukung bisnis dirgantara belum berkembang secara signifikan. Ia mencontohkan negara-negara Asia seperti Malaysia, yang telah memiliki lebih dari 200 perusahaan terkait industri kedirgantaraan yang terhubung dengan perusahaan global. Di Indonesia, situasi ini jauh lebih minim.
“Di Indonesia hanya sedikit sekali, padahal pesawat-pesawat Boeing di Indonesia itu banyak sekali. Jadi, tentu saja Boeing perlu ekosistem di sekitar Indonesia untuk mendukung operasi dan bisnis Boeing,” ujarnya.
Peran ITB dalam Pengembangan Inovasi
Sebagai universitas yang menjadi pusat riset dan sumber daya manusia, ITB dinilai cocok untuk menjadi mitra dalam membangun industri dirgantara. Program kolaborasi antara ITB dan Boeing bertujuan untuk mengintegrasikan dunia akademik, industri, serta startup teknologi.
“Kolaborasi ini sangat tepat karena ITB sebagai kampus pertama di Indonesia yang bekerja sama dengan Boeing,” kata Tatacipta.
Program BUILD: Menyediakan Akses ke Ekosistem Global
Program Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD) diluncurkan sebagai langkah strategis dalam membangun ekosistem inovasi. Program ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa, alumni muda, dan perusahaan rintisan agar mampu mengembangkan gagasan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Dalam pelaksanaannya, program BUILD akan berlangsung dari Mei hingga September 2026. Boeing akan berperan sebagai jangkar yang memberikan pendampingan, mentoring, serta akses ke ekosistem industri global.
“Nah, Boeing sekarang menjadi jangkarnya. Yang akan memberikan mentor, kemudian membangun ekosistemnya sehingga tingkat keberhasilan dari gagasan inovasi ini sampai ke hilir bisa kemungkinan berhasilnya lebih tinggi,” tambah Tatacipta.
Model Pembelajaran Berbasis Pengalaman
Program BUILD menggunakan model pembelajaran berbasis pengalaman yang mencakup workshop, sesi mentoring, bootcamp, dan dukungan inkubasi ide. Dengan pendekatan ini, peserta akan diberi kesempatan untuk mengembangkan proyek mereka secara langsung dengan bimbingan dari para ahli.
Adapun program ini tidak hanya terbatas pada peserta ITB, tetapi juga terbuka bagi talenta-talanta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua calon inovator memiliki akses yang sama untuk berkembang.
Dukungan Pemerintah dalam Kolaborasi
Direktur Jenderal Pengembangan Penelitian Kemendiktisaintek, Dr M Fauzan Adziman, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, model ini merupakan integrasi ideal antara pendidikan, riset, dan kebutuhan industri.
“Pemerintah memberikan dukungannya dalam bentuk beasiswa, riset, hingga program magang yang terhubung langsung dengan industri,” ujarnya.
Fauzan menilai bahwa kolaborasi ITB-Boeing ini merupakan tonggak penting bagi Indonesia. “Ini menjadi langkah yang tepat sektornya saya, dan ITB ini menjadi kampus pertama (kolaborasi dengan Boeing) kalau di Indonesia,” katanya.
Kesiapan Indonesia untuk Menjadi Pemain Utama dalam Industri Dirgantara
Dengan adanya program BUILD dan kerja sama antara ITB dan Boeing, Indonesia semakin siap untuk menjadi bagian dari industri dirgantara global. Melalui inovasi dan pengembangan sumber daya manusia, sektor ini dapat berkembang secara berkelanjutan.***







